JAKARTA – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan pemberian izin Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) untuk proyek gas raksasa di Blok Masela telah resmi diterbitkan dan diserahkan, membuka jalan bagi tahap awal pembangunan yang telah lama dinanti.
Izin AMDAL merupakan salah satu persyaratan administratif penting sebelum proyek migas besar bisa memulai konstruksi fisik. Terbitnya dokumen lingkungan ini menjadi tonggak penting setelah berbagai tahapan perizinan yang memakan waktu panjang di sektor hulu migas nasional.
Proyek Blok Masela merupakan salah satu proyek energi terbesar di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir dengan nilai investasi diperkirakan mencapai sekitar Rp352 triliun atau sekitar US$ 21 miliar. Dengan izin AMDAL kini di tangan, langkah menuju seremoni peletakan batu pertama atau groundbreaking diproyeksikan bisa segera terealisasi.
Izin Lingkungan Terbit, Langkah Konstruksi Semakin Dekat
Proses penerbitan izin AMDAL disampaikan rampung dan telah secara resmi diberikan kepada SKK Migas oleh Kementerian Lingkungan Hidup pada 13 Februari 2026. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyatakan rasa syukur atas pencapaian ini, menyebutnya sebagai momentum menjelang bulan suci Ramadan dan sebagai “hadiah” untuk percepatan proyek.
Dengan dokumen lingkungan yang telah diterbitkan, tahapan administratif kunci telah dipenuhi. Ini membuka peluang bagi pihak pengembang proyek untuk melanjutkan proses yang lebih substansial, termasuk persiapan fisik di lapangan dan rencana groundbreaking proyek yang rencananya akan digelar dalam waktu dekat.
Djoko juga menekankan dukungan semua pihak menjadi kunci agar seluruh tahapan realisasi proyek dapat berjalan dengan lancar dan sesuai jadwal.
Skala Investasi dan Target Produksi Proyek
Dilihat dari skala investasi, proyek gas di Blok Masela masuk kategori proyek strategis nasional dan menjadi salah satu yang terbesar di sektor hulu migas Indonesia. Nilai investasi diperkirakan mencapai hampir US$ 21 miliar atau setara Rp352 triliun, dengan kapasitas produksi gas yang direncanakan mencapai 1.600 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).
Sebanyak 150 MMSCFD dari produksi gas tersebut akan dialokasikan untuk kebutuhan domestik, sementara sisanya akan difokuskan untuk ekspor dalam bentuk Liquefied Natural Gas (LNG). Selain itu, proyek ini juga diproyeksikan akan menghasilkan kondensat sekitar 35.000 barel per hari sebagai produk sampingan.
Produksi gas yang besar tersebut diharapkan dapat memperkuat pasokan energi dalam negeri sekaligus membantu Indonesia mempertahankan peran pentingnya dalam pasar energi global melalui ekspor LNG.
Sejarah dan Tahapan Pengembangan Lapangan Abadi
Blok Masela sendiri merupakan lapangan gas laut dalam dengan cadangan besar, terletak di wilayah Laut Arafura, sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena, Maluku. Lapangan ini memiliki potensi gas yang diperkirakan mencapai 6,97 triliun kaki kubik (TCF).
Kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) untuk Blok Masela pertama kali ditandatangani pada 1998, dan kemudian diperpanjang hingga 2055. Namun, perjalanan proyek ini tidak singkat; tahapan pendalaman eksplorasi, persetujuan rencana pengembangan (Plan of Development), dan revisi strategi investasi telah berlangsung selama bertahun-tahun sebelum mencapai tahap perizinan lingkungan yang baru saja dirampungkan.
Seiring dengan perubahan struktur kepemilikan, Inpex Masela Ltd tetap menjadi pemegang hak partisipasi terbesar, sementara sebagian saham yang sebelumnya dipegang oleh Shell kini telah diambil alih oleh PT Pertamina Hulu Energi Masela dan Petronas.
Dampak Ekonomi dan Peluang Kerja
Proyek Blok Masela tidak hanya dipandang sebagai sumber energi, tetapi juga sebuah pendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia. Pengembangan kilang LNG, fasilitas subsea, dan infrastruktur pendukung lainnya diperkirakan akan menyerap tenaga kerja ribuan orang, meningkatkan aktivitas ekonomi di daerah sekitar proyek, serta memperkuat ekosistem bisnis lokal.
Selain itu, realisasi proyek besar ini diprediksi akan memberikan efek berganda terhadap sektor industri, termasuk layanan logistik, pemasok peralatan industri, hingga sektor jasa pendukung di tingkat nasional.
Dengan izin lingkungan yang kini resmi terbit dan persiapan konstruksi yang semakin matang, Blok Masela dipantau sebagai salah satu contoh proyek strategis yang diharapkan mendongkrak ketahanan energi Indonesia sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta energi global.