Petani Milenial Sembalun Kembali Optimalkan Lahan untuk Kopi Arabika

Senin, 23 Februari 2026 | 12:23:04 WIB
Petani Milenial Sembalun Kembali Optimalkan Lahan untuk Kopi Arabika

JAKARTA - Di Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, petani milenial mulai kembali menanam kopi Arabika sebagai komoditas unggulan. Fenomena ini muncul seiring stabilnya harga kopi dalam empat tahun terakhir, sehingga minat generasi muda untuk menekuni tanaman ini meningkat.

Rusmala, penggiat kopi Sembalun, menilai pergeseran minat ini tidak terlepas dari perkembangan pariwisata di kawasan tersebut. 

“Sekarang kopi ini menjadi gaya hidup. Sehingga banyak petani yang mulai mengembangkan kopi, terutama petani milenial. Karena dalam kurun waktu empat tahun terakhir ini harga kopi tetap stabil,” jelasnya.

Kopi kini tidak hanya sebagai komoditas, tetapi juga menjadi bagian dari identitas petani muda di Sembalun. Para generasi milenial melihat kopi sebagai peluang ekonomi sekaligus gaya hidup yang menarik, berbeda dengan sebelumnya yang lebih fokus pada sayur mayur dan bawang putih.

Harga Stabil Dorong Minat Petani Muda

Harga kopi Arabika di tingkat green bean saat ini berkisar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram. Rentang harga yang relatif stabil ini mendorong petani untuk kembali mengoptimalkan lahan mereka. 

Lahan kering yang sebelumnya kurang dimanfaatkan kini menjadi area penanaman kopi, sementara lahan subur tetap difokuskan untuk sayur mayur.

Stabilitas harga dianggap sebagai faktor penting agar petani tidak beralih ke komoditas lain. Dengan pendapatan yang lebih pasti, generasi muda semakin yakin untuk menanam kopi. Hal ini menjadi bukti bahwa ketahanan harga mampu mendorong keberlanjutan produksi dan regenerasi petani.

Varietas Arabika Ateng Super Tingkatkan Produktivitas

Para petani Sembalun tidak hanya menanam kopi secara konvensional, tetapi juga mulai mengembangkan varietas Arabika Ateng Super. Varietas ini memiliki keunggulan dibandingkan jenis lokal seperti Tivika, karena lebih produktif dan buahnya lebih lebat.

“Salah satu keunggulan kopi Sembalun adalah rasanya, ini disebabkan faktor ketinggian di atas 1.000 mdpl,” kata Rusmala. Ketinggian lokasi penanaman memberikan cita rasa khas, sehingga kopi Sembalun memiliki nilai jual tinggi di pasar lokal maupun nasional.

Selain varietas, proses pascapanen juga menjadi penentu kualitas. Kesalahan dalam pengolahan dapat menurunkan cita rasa dan merusak nilai jual. Oleh karena itu, petani kini semakin memperhatikan ketelitian dalam pengolahan pascapanen agar kopi yang dihasilkan tetap berkualitas premium.

Sistem Pagar Maksimalkan Kapasitas Lahan

Selain varietas unggul, petani kopi Sembalun juga mengadopsi model penanaman menggunakan sistem pagar. Metode ini memungkinkan penanaman lebih rapat sehingga dalam satu hektare bisa menampung lebih dari 4.000 pohon. Potensi produksi diperkirakan mencapai 2 ton per hektare.

“Dengan harga pasar sekarang Rp100-200 ribu per kilogram, lumayan pendapatan petani,” tambah Rusmala. Sistem pagar ini meningkatkan efisiensi penggunaan lahan dan memungkinkan petani milenial mendapatkan hasil maksimal dari area terbatas.

Penerapan metode modern ini sekaligus menunjukkan bahwa generasi muda mampu menggabungkan teknik pertanian inovatif dengan kearifan lokal untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kopi.

Potensi Pasar Lokal dan Nasional

Kopi Sembalun memiliki potensi pasar yang sangat besar, baik di tingkat lokal maupun nasional. Penikmat kopi di dalam negeri semakin sadar kualitas kopi spesialti dari Sembalun. Hal ini menjadi peluang bagi petani untuk meningkatkan pendapatan sekaligus memperkuat ekonomi lokal.

Namun, untuk menembus pasar internasional, para petani masih menghadapi kendala logistik dan perizinan yang cukup tinggi. Biaya pengiriman dan izin ekspor menjadi hambatan utama yang mengurangi daya saing kopi Sembalun di pasar global.

Rusmala berharap pemerintah tidak hanya memberikan bantuan fisik, tetapi juga pendampingan teknis dan kemudahan akses pasar global. Dengan dukungan regulasi dan biaya yang terjangkau, kopi Sembalun memiliki peluang untuk dikenal luas di dunia internasional.

Kopi Sebagai Gaya Hidup dan Peluang Ekonomi

Kopi kini menjadi bagian dari gaya hidup petani milenial Sembalun. Generasi muda memandang kopi bukan sekadar tanaman komoditas, tetapi juga sarana kreatifitas dan inovasi. Mereka menanam kopi, mengelola pascapanen, hingga memasarkan produknya dengan pendekatan modern.

Tren ini diharapkan mendorong regenerasi petani sekaligus menjaga keberlanjutan produksi kopi Arabika Sembalun. Dengan harga stabil, varietas unggul, sistem penanaman modern, dan dukungan pasar, kopi menjadi salah satu sektor potensial yang menggabungkan ekonomi, budaya, dan gaya hidup di Sembalun.

Rusmala menutup, “Kendala kita ke luar negeri, pengiriman dan izin yang cukup mahal. Kami berharap pemerintah mempermudah izin dan menekan biaya pengiriman agar kopi Sembalun bisa mendunia.”

Terkini