JAKARTA - Bubur Garut telah menjadi pilihan favorit banyak warga ketika waktu berbuka puasa tiba karena teksturnya yang sangat lembut dan cita rasanya yang manis serta mudah dicerna setelah seharian berpuasa, menurut sejumlah warga dan pelaku usaha kuliner.
Keistimewaan Bubur Garut untuk Berbuka Puasa
Bubur Garut bukan sekadar hidangan biasa. Olahan tradisional ini, yang terbuat dari tepung pati garut yang dimasak bersama air, gula merah, daun pandan, dan sedikit garam, menghasilkan tekstur kental yang lembut serta rasa manis yang nyaman di lambung. Banyak yang menyebut hidangan ini sebagai pilihan yang “adem di perut” karena mudah dicerna dan membantu memulihkan energi yang hilang sepanjang hari berpuasa.
Para pakar kuliner lokal menyatakan bahwa bubur ini sangat cocok sebagai menu pembuka di waktu berbuka karena tidak memberatkan perut setelah berjam-jam berpuasa. Umat Muslim yang memilih bubur ini sebagai takjil berbuka puasa merasa nyaman melanjutkan ibadah salat Maghrib tanpa rasa kekenyangan yang berlebihan.
Resep dan Cara Penyajian Bubur Garut
Bahan utama bubur ini adalah tepung pati garut. Tepung ini dicampur dengan air hingga menjadi larutan, kemudian dimasak bersama air gula merah yang sudah direbus dengan daun pandan untuk memberi aroma harum. Beberapa penjual menambahkan sedikit santan untuk menambah kelembutan rasa. Proses ini biasanya memakan waktu cukup singkat, tetapi membutuhkan ketelitian agar bubur mencapai konsistensi yang pas — tidak terlalu encer sekaligus tidak terlalu kental agar nyaman di lidah dan perut.
Penjual di Sampang menjelaskan bahwa kunci membuat bubur ini istimewa adalah pemilihan pati garut berkualitas dan gula merah yang diolah dengan suhu yang tepat. “Kami selalu memastikan bubur yang kami sajikan memiliki tekstur yang halus dan rasa manis yang seimbang, sehingga begitu disantap saat berbuka, perut langsung terasa lebih nyaman,” ungkap salah seorang pedagang saat diwawancarai.
Bubur Garut dalam Tradisi Kuliner Nusantara
Masakan berbasis bubur memang bukan hal asing dalam kuliner Indonesia, terutama pada bulan Ramadan. Di berbagai daerah di Nusantara, bubur menjadi pilihan populer untuk menu berbuka puasa. Misalnya, bubur sumsum, bubur kanji rumbi di Aceh, atau bubur kampiun di Sumatera Barat yang juga disukai karena lembut dan manisnya yang menenangkan perut setelah berpuasa panjang.
Namun, bubur Garut memiliki kekhasan sendiri karena menggunakan tepung pati garut, yang memberikan tekstur berbeda dari bubur beras umumnya. Tepung garut itu berasal dari umbi garut yang diolah menjadi pati sehingga membuat bubur lebih halus dan elastis ketika dimasak. Beberapa ahli kuliner tradisional juga mencatat bahwa pati garut dikenal memiliki efek menenangkan lambung karena sifatnya yang mudah larut dan dicerna tubuh.
Manfaat Bubur Garut bagi Kesehatan
Selain sebagai menu yang cocok untuk buka puasa, bubur Garut juga dikenal bermanfaat bagi kesehatan pencernaan. Pati garut sendiri telah digunakan dalam beberapa resep tradisional untuk mengatasi masalah perut sensitif atau membantu proses pencernaan yang lambat. Komponen pati dalam umbi garut bersifat ringan, sehingga memberikan efek menenangkan pada lambung.
Para ahli gizi lokal di Sampang mengatakan bahwa makanan yang mudah dicerna seperti bubur Garut sangat dianjurkan pada awal berbuka puasa, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi lambung sensitif atau anak-anak yang baru mulai belajar berpuasa. Karena bubur ini memberikan energi secara bertahap tanpa membuat tubuh kaget oleh makanan berat yang mendadak masuk setelah lama berpuasa.
Peran Bubur Garut dalam Kehidupan Sosial dan Ekonomi
Selain sebagai sajian kuliner, bubur Garut juga memiliki peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat Sampang. Pada bulan Ramadan, banyak pedagang kecil yang memanfaatkan momentum ini untuk menjajakan bubur ke kerumunan warga yang mencari takjil berbuka. Hal ini turut mendongkrak perekonomian kecil dan memberikan peluang usaha bagi warga lokal.
Para pedagang menyampaikan bahwa selama Ramadan, permintaan bubur Garut meningkat pesat menjelang waktu berbuka. “Biasanya di sore hari sebelum Maghrib, antusiasme warga tinggi. Banyak yang membeli bubur untuk dibawa pulang dan berbagi bersama keluarga,” jelas seorang penjual yang telah menjajakan bubur Garut selama beberapa tahun di pasar tradisional Sampang.
Momen berbuka puasa dengan bubur ini bukan sekadar soal rasa dan kebutuhan energi, tetapi juga momen kebersamaan. Banyak keluarga yang berkumpul di sore hari untuk menikmati bubur hangat sambil bercengkerama dan mengakhiri puasa hari itu.
Kreativitas Variasi Bubur Garut di Era Modern
Dengan berkembangnya selera kuliner generasi muda, beberapa pedagang mulai memodifikasi penyajian bubur Garut agar lebih menarik. Variasi seperti penambahan potongan buah, taburan kacang, atau siraman santan kental kini banyak ditawarkan untuk menarik pembeli yang menginginkan sensasi baru dalam menikmati bubur tradisional. Walaupun demikian, versi klasik bubur Garut dengan rasa manis dan teksturnya yang lembut tetap menjadi favorit utama banyak orang.
Kreativitas ini menjadi bukti bahwa hidangan tradisional seperti bubur Garut tetap relevan di tengah modernisasi budaya kuliner Indonesia. Bahkan beberapa pedagang kini menerima pesanan secara online, sehingga bubur yang sebelumnya hanya dikenal kalangan lokal kini bisa dinikmati oleh masyarakat yang lebih luas.
Bubur Garut, Simbol Kenikmatan Berbuka Puasa
Bubur Garut telah menjelma menjadi menu buka puasa yang digemari karena kombinasi rasa manis, tekstur lembut, dan kemampuannya untuk menenangkan perut setelah seharian berpuasa. Hidangan ini bukan hanya soal kenikmatan rasa, tetapi juga cara masyarakat menjaga tradisi kuliner sambil menguatkan ikatan sosial dan mendukung ekonomi lokal. Dalam suasana Ramadan yang penuh berkah, semangkuk bubur Garut menjadi simbol kenyamanan, kekeluargaan, dan kesederhanaan yang dirayakan bersama.